Catatan Satu Tahun Bersama Kakak Rendra Kresna

Rendra Kresna Sungkem Ibunya setelah Dikukuhkan Jadi ketua DPW NasDem JatimOleh: Adi Tirmidzi
(Ketua Komite Wilayah Liga Mahasiswa NasDem Jawa Timur)

Tidak terasa satu tahun sudah Rendra Kresna memimpin NasDem Jawa Timur. Tepatnya menjelang hari kemerdekaan Republik Indonesia setahun yang lalu, Rendra yang dilantik oleh Surya Paloh pada 14 Agustus 2016 di Surabaya ini menggantikan Effendy Choirie. Teringat ada pemandangan yang mengharukan dalam acara pelantikan itu. Ketika selesai dilantik, Rendra langsung turun dari panggung menghampiri Ibunya yang duduk di barisan kursi paling depan. Ia langsung sungkem pada ibunya. Momen itu menyita perhatian sejumlah awak media. Momen yang sepertinya akan bikin menyesal bila dilewatkan. Blitz menyala bergantian tak henti-henti hingga momen itu selesai. Tak ketinggalan juga hadirin mengabadikannya lewat kamera ponsel.

Ditunjuknya Rendra sebagai Ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur memunculkan banyak spekulasi teori yang beredar baik dari pihak internal maupun dari eksternal. Tapi saya tidak ingin berspekulasi, karena bagi saya politik itu dinamis maka saya optimis bahwa setiap pemimpin baru akan selalu membawa hal yang baru pula, mulai pola kepemimpinan sampai strategi pengembangan organisasi. Terlepas pemimpin yang baru tidak ingin berada di bawah bayang-bayang pemimpin yang lama.

Sempat beredar spekulasi dari pihak eksternal bahwa ditunjuknya Rendra menjadi ketua DPW Partai NasDem karena ia digadang-gadang untuk maju sebagai Calon Gubernur atau Calon Wakil Gubernur pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 (Pilgub Jatim 2018). Namun spekulasi itu akhirnya terbantahkan. Usai pelantikan, Rendra mengatakan kepada wartawan bahwa ia tidak akan maju pada Pilgub Jatim 2018. Sebagai ketua DPW ia akan konsentrasi membesarkan Partai NasDem Jatim. Ia menargetkan NasDem Jatim di posisi tiga besar pada Pemilu 2019 nanti.

Sedangkan spekulasi yang beredar di internal bahwa Rendra akan membawa gerbong Golkar ke dalam organ struktur NasDem Jatim juga terbantahkan. Seperti diketahui, sebelumnya Rendra adalah Ketua DPD Golkar Kabupaten Malang. Terbukti hingga saat ini belum atau tidak ada restruktrurisasi besar-besaran di tubuh organisasi NasDem Jatim, pun di tingkat kabupaten dan kota.

Di awal kepemimpinannya, Rendra langsung melakukan diagnosa organ struktur sampai tingkat DPD Kabupaten dan Kota. Diagnosa dilakukan dengan melakukan verifikasi terhadap organ struktur di tingkat kabupaten dan kota. Ibarat tubuh, kondisi organ yang sehat adalah prasyarat mutlak dalam pertarungan. Terlebih dalam pertarungan politik menghadapi Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 2019.

Bagi Rendra komposisi struktur organisasi ibarat komposisi musik. Nada mayor dan nada minor bila berdiri sendiri-sendiri, mereka tidak akan menghasilkan alunan nada yang harmonis. Mereka hanya sekedar menjadi bunyi. Bunyi yang tidak beraturan hanya akan membuat telinga sakit. Tapi bila nada-nada itu diatur secara ritmik, mereka akan menghasilkan alunan nada yang harmoni. Harmoni tidak hanya menyenangkan, tapi juga menenangkan dan menyejukan.

Tidak ringan memang beban yang sedang dipikul Rendra. Ia ditargetkan untuk membawa NasDem Jatim di posisi tiga besar di Pemilu 2019. Bila diibaratkan kompetisi sepakbola ia ditargetkan membawa kesebelasannya masuk zona champions. Dalam hal kompetisi sepak bola, sebagai Presiden Arema Coronus, Rendra sudah terbukti mampu membawa Arema menjadi juara.

Tentu medan kompetisi sepakbola dan politik tidak sama. Namun sebagai sosok yang pernah memenangkan kompetisi, artinya semangat dan jiwa berkompetisi ada padanya. Untuk memenangkan kompetisi tidak harus memenangkan pertandingan. Misalnya di Pilkada Serentak 2018, Jawa Timur menyelenggarakan 18 Pilkada kabupaten dan kota. Rendra harus menargetkan secara tepat dimana pertandingan yang harus dimenangkan dan dimana pertandingan yang harus bertahan.

Sementara dalam kompetisi politik demokrasi, penentu kemenangan adalah rakyat. Bagaimana sebuah partai politik tidak hanya diterima oleh rakyat, tapi juga dipilih oleh rakyat. Dalam setiap kesempatan, Rendra selalu menyampaikan kepada kader-kader NasDem bahwa NasDem harus hadir di setiap lapisan masyarakat, hadir di pelosok-pelosok, hadir di tengah-tengah masyarakat yang tidak tersentuh pembangunan.

Dalam satu tahun kepemimpinannya, Rendra mengapresiasi lapisan masyarakat, yang secara teori mereka jauh dari jangkauan politik. Di Jember dan Banyuwangi diselenggarakan sarasehan budaya bersama seniman dan budayawan lokal. Bahkan di Banyuwangi diselenggarakan pagelaran seni dan budaya lokal. Di Sumenep, sehari setelah lebaran Idul Fitri, diselenggarakan halal bihalal bersama guru ngaji se-Kabupaten Sumenep. Di Bangkalan Rendra mengapresiasi Festival Puisi yang diselenggarakan oleh komunitas sastrawan Madura. Bahkan Rendra menuliskan pengantar di buku Antologi Puisi yang dilaunching di acara itu.

Akhirnya, menggambarkan satu tahun bersama Rendra, saya mengutip adagium presiden pertama Ceko Vavlac Havel: “Bila politik itu kotor, biarlah sastra yang membersihkannya.”

Dirgahayu Republik Indonesia Ke-72.
Selamat Berjuang Kakak Rendra!
Bersatu, Berjuang, Menang.

Leave a Reply