Ema Dewi Anindia, Dokter Cantik NasDem Yang Punya Kepedulian Sosial Tinggi

Ema Dewi Anindia, Dokter Cantik NasDem Yang Punya Kepedulian Sosial TinggiMojokerto-partainasdemjatim.com

Tidak banyak orang yang memahami sebenarnya apa itu penyakit HIV/AIDS. Mereka menganggap penyakit yang melumpuhkan sistem kekebalah tubuh manusia ini sebagai penyakit ‘hina’ yang dengan mudah dapat menular. Sehingga mereka yang terjangkit penyakit ini dikucilkan oleh masyarakat.

“Banyak masyarakat belum tahu HIV/AIDS itu penyakit apa, cara penularannya seperti apa, dan pencegahannya bagaimana. Akibatnya, sebagian besar masyarakat justru paranoid jika mengetahui ada orang dengan HIV/AIDS (ODHA),” ujar dr Ema Dewi Anindia

Itulah alasan dr Ema menggelar penyuluhan kesehatan tentang HIV/AIDS di Balai Desa Gembongan, Sabtu, 3 Februari 2018. Dengan penyuluhan ini dr Ema berharap nantinya masyarakat memahami dan memiliki wawasan tentang HIV/AIDS.

dr Ema mengatakan, ODHA masih bisa berkumpul di tengah masyarakat seperti warga lainnya. Menurutnya, seringkali warga masih banyak yang keliru. Kalau ada penderita HIV/AIDS malah menjauhi. Padahal, kata dia, penularannya tidak semudah yang dibayangkan.

Penyuluhan kesehatan yang dihadiri sekitar 200 warga ini diharapkan mampu memberikan pemahaman dan wawasan tentang HIV/AIDS maupun tentang penyakit lainnya. Bagi dr Ema dengan adanya peningkatan pemahaman oleh masyarakat, maka akan berkontribusi untuk mengurangi angka kejadian penyakit.

“Harapannya, supaya terbentuk masyarakat yang lebih sehat,” kata dr Ema.

Dokter cantik yang juga menjadi kader Partai NasDem ini memiliki tekad untuk menjadi salah satu perpanjangan tangan pemerintah dalam rangka mengurangi angka kejadian penyakit infkesi dan menahun.

Ini bukan kali pertama dr Ema datang ke desa Gembongan Mojokerko. Sebelumnya, pada 20 Desember 2017 ia mengunjungi Alif. Bocah 9 tahun itu mengalami gangguan BAB (buang air besar). Sejak usia 7 bulan Alif harus BAB melalui perutnya dan ditampung ke dalam kantung plastik. Seharusnya yang digunakan adalah kantung plastik khusus, namun karena keadaan ekonomi orang tua Alif, ia menggunakan kantung plastik biasa. Selama 8 tahun 5 bulan Alif menampung BAB dalam kantung plastik yang ditempelkan ke perutnya.

Saat itu, setelah dr Ema melakukan pemeriksaan terhadap Alif, ia langsung dibawa ke Rumah Sakit Premier Surabaya, dan langsung ditangani oleh dokter bedah anak. Tim dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi agar Alif bisa BAB dengan normal. Tim dokter merencanakan tindakan operasi dilakukan pada 3 Januari 2018.

Kini Alif tidak lagi BAB melalui perutnya. Bocah 9 tahun asal Mojokerto ini sudah BAB dengan normal.

“Adik Alif dapat disembuhkan, sekarang dia tidak perlu pakai plastik lagi, jadi sudah bisa BAB secara normal,” kata dr Ema saat berkunjung ke rumah Alif, sebelum ke acara penyuluhan.

Sementara Emik Jayanti, Ibunda Alif, tidak habis habisnya menyampaikan terima kasih kepada dr Ema. Pasalnya, semua biaya rumah sakt dan biaya obat ditanggung oleh dr Ema. Bahkan kebutuhan selama di Rumah Sakit juga ditanggung. (Sha)

Leave a Reply