Terperangkap Sara

Terperangkap Sara, Nor RahmanOleh: Nor Rahman S. Sos 

(Mahasiswa Sekolah Politisi Muda Yayasan Satu Nama,
Kader Muda DPW NasDem Jatim)

Isu Suku Agama Ras Dan Antargolonganh (SARA) dalam Pilkada DKI Jakarta, nampaknya menjadi awal boomerang dan senjata paling ampuh untuk menjatuhkan kompetitor dalam panggung politik nasional. Setelah kasus SARA Basuki Thaja Purnama (Ahok), belakangan ini pubik kembali diramaikan dengan pernyataan Viktor Laiskodat Politisi Partai NasDem di Nusa Tenggara Timur beberapa waktu lalu, yang dinilai mengandung Sara dan ujaran kebencian.

Gagal Paham

Tingginya tingkat sensifitas masyarakat dalam menyikapi Isu SARA, seharusnya menjadi pelajaran penting bagi aktor politik maupun media massa untuk lebih dewasa dan melakukan tabayyun terlebih dahulu dalam menyikapi sebuah pernyataan yang dinilai mengandung unsur SARA ataupun ujaran kebencian.

Jika saja hal tersebut di atas mampu dilakukan tentu kegaduhan elit politik tidak akan menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman atas pidato ketua Fraksi NasDem Viktor Laiskodat, karena secara kelembagaan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem langsung membentuk Tim Kajian yang melibatkan Dewan Pakar, Pengurus Harian Dan Badan Advokasi Hukum Partai NasDem, untuk mengkaji dan menganilisis isi pidato Viktor Laiskodat yang asli secara utuh

Setelah mendengar rekaman pidato Viktor Laiskodat yang berdurasi 21 menit 12 detik itu Tim Kajian DPP Partai NasDem berkesimpulan bahwa, Rekaman yang telah beredar adalah rekaman yang telah diedit sedemikian rupa sehingga menghilangkan konteks, konten dan subtansi dari isi pidato yang asli, sehingga hasil editan yang tersebar luas tersebut menimbulkan kesalahpahaman yang berujung dilakukannya pelaporan oleh DPP Partai Keadilan Sejahtra (PKS), Grendra, PAN dan Generasi Muda Demokrat ke Bareskrim, dengan tudingan telah melanggar Undang-undang No. 19/2016 tentang Informasi Transaksi Elektronik dan Undang-undang No. 40/2008 tentang penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Padahal sebelumnya melalui siaran Pers DPP Partai NasDem menyatakan bahwa telah terjadi kesalahpahaman terhadap pidato Viktor Laiskodat, karena ada pihak yang telah mengedit, menyambungkan dan menyebarluaskan pidato tersebut, sehingga dengan begitu DPP Partai NasDem mengajak seluruh elemen masyarakat agar tidak memberikan penilain dan reaksi hanya berdasarkan satu sumber yang telah dimanipulasi, bahkan secara terbuka DPP NasDem juga mengaku siap menerima masukan dari masyarakat.

Aktor Politik

Secara kelembagaan partai politik, tentu pernyataan Viktor Laiskodat menjadi poin berharga untuk dimainkan oleh para kompetitornya di panggung politik nasional, karena Isu politik identitas atau Sara tersebut memiliki dampak electoral yang signifikan terhadap masyarakat, dan dampak buruk bagi kelembagaan partai politik itu sendiri.

Tentu tidak heran jika kemudian pernyataan Viktor Laiskodat dijadikan bola panas antara elit aktor politik untuk mendapatkan simpati publik, dengan cara membumbui dan membesar-besarkan isu tersebut melalui media massa.

Dengan begitu maka yang terjadi, kalau kita meminjam istilahnya Yasraf Amir Piliang masyarakat saat ini hanya dapat memilih diantara dua alternatife, yang pertama adalah pilihan antara suatu masyarakat yang penuh kekacauan dimana hukum rimba yang menghalalkan “bellum omnium contra omnes” (perang semua melawan manusia), atau yang kedua, suatu masyarakat dimana semua orang hanya menyetujui apa yang dikatakan oleh para elit,

Fenomena ini disebut gerak turbulensi sosial, yaitu gerakan sosial yang tidak beraturan dan acak, wacana politik yang berkembang tampa arah. Dengan begitu, kalau kita lihat praktek perpolitikan nasional kita yang menggunakan segala cara entah itu baik atau tidak? merugikan masyarakat dengan menyebabkan terjadinya perpecahan kerukunan dalam berbangsa atau tidak ? tentu bisa dengan mudah kita simpulkan bahwa saat ini kedewasaan berpolitik para politisi kita masih sangat minim dan tidak mampu memberikan keteladanan bagi masyarakat,

Bagi Viktor Laiskodat, seharusnya juga menghindari untuk mengucapkan kata-kata yang sekiranya membuat dan memberikan kesempatan bagi kompetitor politiknya untuk memainkan isu sara. Diluar konteks isi pidato Viktor Laiskodat benar atau salah,

Para aktor politik lebih baik mencari simpati masyarakat dengan tetap menjaga kerukunan dalam berbangsa. Dengan demikian politik yang bermakna luhur sebagai tata kelola kehidupan masyarakat untuk meningkatkan kualiatas pendidikan berdemokrasi akan tercapai. Sehingga presepsi masyarakat yang menganggap politik hanya sebagai sarana kontestasi untuk merebut kekuasaan “panggung gladiatior antara elit partai politik” ini akan terbantahkan.

Leave a Reply